Mari BERSATU BERGANDENG TANGAN KITA MEMBUAT PERUBAHAN MENUJU CILACAP YANG LEBIH BAIK UNTUK ANAK CUCU KITA
MELAYANI PEMASANGAN IKLAN USAHA ANDA,DENGAN TARIF 25rb/Minggu, HASIL AKAN DIGUNAKAN UNTUK MENAMBAH KAS ORGANISASI, silahkan hubungi nomor kontak di bawah untuk pemasangan iklan anda

Minggu, 04 November 2012

BANYAK LANSIA TERKENA KATARAK (catatan Baksos di Desa Wanareja)


Sebanyak 32 orang lanjut lusia (Lansia) di Desa Madusari, Kecamatan Wanareja terdeteksi mengidap katarak tahap awal hingga mature atau telah menutup seluruh lensa mata.

Kondisi itu terungkap saat berlangsung bakti sosial yang diadakan Lembaga Penelitian Pengembangan dan Sumberdaya Lingkungan Hidup (LPPSLH), Forum Komunikasi Alumni SMU Negeri 1 Cipari angkatan 1997, Majelis Rakyat Cilacap, Karangtaruna Cilacap dan LSM Teratai Provinsi Jawa Tengah di Balai Desa Madusari.

Dokter yang terlibat dalam kegiatan bakti sosial itu, dr Agus Susanto menjelaskan, banyak faktor yang bisa memicu katarak seperti pola hidup yang kurang sehat, makanan, lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih serta terpapar asap dalam waktu yang lama.

"Bisa jadi warga Desa Madusari masih banyak yang memasak menggunakan kayu bakar dan tanpa sengaja abunya masuk ke mata sehingga menimbulkan iritasi. Jika tidak diobati, iritasi itu lambat laun akan memicu terbentuknya selaput di lensa mata atau biasa disebut katarak," ujarnya, Sabtu (3/11).

Agus menambahkan, katarak mengakibatkan pandangan penderitanya tidak jelas atau kabur. Hal itu disebabkan karena cahaya yang akan masuk ke lensa mata terhalang oleh selaput.

Selain katarak, Agus mengatakan beberapa warga juga mengidap infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) dan rematik. Selain diperiksa mereka juga diberi obat yang wajib rutin dikonsumsi.

Terpisah, alumnus SMU Negeri 1 Cipari, Istianatul Kirom mengatakan, sangat bersyukur karena acara itu berjalan lancar dan animo masyarakat Desa Madusari untuk mengikuti pengobatan gratis juga sangat besar.

Meski demikian, ia mengaku, masih banyak kekurangan dari kegiatan itu mulai dari obat-obatan hingga formulir jenis-jenis penyakit yang diderita warga serta membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Menurutnya, seorang alumnus yakni dr Sahilah Ermawati yang kini mengajar di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) juga turun tangan mengobati masyarakat Madusari.

"Warga yang berobat mencapai 200 orang, tetapi karena formulir jenis penyakitnya kurang, hanya katarak yang baru bisa didata. Kami telah mengagendakan menggelar bakti sosial semacam ini dua bulan sekali," katanya.

Bakti Sosial ini juga diisi dengan TOT HIV/AIDS bersama LPPSLH dan MRC yang diikuti oleh Karang Taruna Kecamatan Wanareja. (jojo/aln)




Baca Selengkapnya...

Jumat, 02 November 2012

Album Kegiatan




 
 



Baca Selengkapnya...

Journal MRC




PERMASALAHAN PASIR BESI VS SANGKAAN PUNGLI


Kukuh Wahono Cilacap
Aktifitas Pasir Besi mengundang pertanyaan warga, kepada pak Tatto sbg bupati Cilacap mhn dapat memberikan penjelasan melalui media atau melalui jajaran di bawahnya, tentang mengapa pasir besi jalan lagi. Saya lbh mengharapkan peran pemerintah dalam penjelasan masalah ini, agar tdk terjadi saling fitnah apalagi saling benci diantara kelompok aktifis lingkungan dan aktifis FPJ.
Baca Selengkapnya...

Kisah Tauladan



Selama 18 tahun, setiap musim hujan anak-anak usia sekolah dasar di Grumbul Panggangsisik, Desa Bojong, Kecamatan Kawunganten terpaksa berjibaku dengan petir dan jalanan licin agar bisa mengenyam pendidikan.

Sekolah terdekat dari rumah mereka berjarak tiga kilometer yakni di pusat Desa Bojong dan pusat Desa Bringkeng, sementara ke pusat Kecamatan Kawunganten sekitar empat kilometer.

Warga RT 5 RW 6, Desa Bojong, Bogini menjelaskan anak-anak di Grumbul Panggangsisik sejak dulu sudah terbiasa menempuh jarak jauh dalam menuntut ilmu.

"Saat kemarau seperti sekarang, jarak tiga hingga empat kilometer bukan masalah berarti. Namun ketika hujan, anak-anak harus berjalan ekstra hati-hati melewati pinggir saluran irigasi yang dimanfaatkan sebagai jalan," katanya, Senin (24/9).

Bogini mengatakan, tahun 2009 barulah ada sekolah swadaya di wilayah itu yang dibangun atas prakarsa Kyai Mukhlas dengan bantuan warga setempat. Menurutnya sampai sekarang gedungnya masih sangat sederhana dan hanya memiliki dua ruang kelas.

Sementara, Kyai Mukhlas saat ditemui di kediamannya, RT 4 RW 6, Grumbul Panggangsisik, Dusun Nusadadi, Desa Bojong menjelaskan, wacana pendirian sekolah sudah muncul sejak 1995 namun baru terealisasi tiga tahun lalu.

Ia mengatakan, pada 1995 sempat mengajukan usulan agar SD Negeri 2 Bojong membuka cabang di grumbul itu. Tetapi, kepala sekolah tidak sanggup mendatangkan guru, menurutnya akses jalan ke Panggangsisik dulu juga masih banyak yang terputus.

"Tahun 2009 kami bisa mengadakan sekolah bagi anak-anak di sini, itu pun masih nunut  di rumah-rumah warga yang menjadi tenaga kerja di luar negeri. Setahun lalu barulah bangunan berdiri, namun hanya untuk kelas satu, dua dan tiga, jumlah pelajar kini mencapai 50 orang," ujarnya.

Sementara siswa kelas empat belajar di emperan Masjid Al Qomar. Mukhlas menjelaskan jam belajar anak-anak dimulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Ia menambahkan, saat ini pengajar di sekolah itu baru berjumlah tiga orang dengan honor Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu per bulan.

"Saya asli Lebeng, Kesugihan dan baru menetap di Bojong tahun 1990. Saat itu banyak anak di wilayah ini yang tidak lulus SD dengan alasan jarak ke sekolah jauh. Alasan jarak pulalah yang membuat orang tua menyekolahkan anak mereka di usia delapan tahun," katanya menambahkan.

Ia bercerita, saat itu jalan menuju kediamannya belum bisa dilewati kendaraan bermotor dan sepeda pun terkadang harus diangkat. Setiap hujan daerah Panggangsisik dipastikan akan kebanjiran.

Mukhlas mengungkapkan, pendirian sekolah swadaya itu murni untuk membantu masyarakat sekitar. Selain dari Grumbul Panggangsisik, pelajarnya juga berasal dari Grumbul Cangkring, Grumbul Robyong serta dari pinggiran Desa Bringkeng.

"Jika diuangkan, biaya pengurukan tanah mencapai Rp 20 juta dan sampai sekarang masih banyak kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi. Karena lahan wakaf terbatas, kami juga terkendala dalam menambah ruang kelas baru," ujarnya.

Pemetaan pendirian sekolah di wilayah itu pun terkesan carut marut, sebab pantauan di lapangan menyebutkan letak SD Negeri 2 dengan SD Negeri 7 Bojong sangat dekat dan saling berhadapan. Dulu di lokasi yang sama juga ada SD Negeri 1 namun akhirnya di pindah.

Saat persoalan distribusi sekolah dasar hendak dikonfirmasikan ke Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Tulus Wibowo SH SPd MSi, yang bersangkutan mendelegasikan penjelasan ke Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Sarwono.

- jo










Baca Selengkapnya...

DEPRESI, SARTINI HIDUP DALAM PASUNGAN


"Apapun yang terjadi, ku kan selalu ada untukmu."

PETIKAN syair lagu Ya Sudahlah yang dipopulerkan Bondan Prakoso itu mengalun merdu dari mulut Sartini. Sekilas tidak ada tanda-tanda jika gadis berusia 17 tahun itu mengalami depresi berat.

Ketika ditemui di rumahnya yang masuk kategori tidak layak huni,  Sartini baru saja bangun dari tidur. Ia sempat memalingkan muka saat hendak difoto, tidak berselang lama ia pun duduk di tepi tempat tidur dan bersedia di foto.

Saat hendak duduk itulah terlihat rantai kecil melilit kaki kanannya. Ia lantas mengajak ngobrol anggota Majelis Rakyat Cilacap (MRC) yang khusus datang untuk menjenguknya, tidak disangka gadis kelahiran 13 Juni 1995 itu mengenali seorang anggota MRC, Yanto Kumbo.

Kakak Sartini, Kusiman bercerita, adiknya mengalami depresi sejak tiga tahun silam. Kakinya terpaksa dirantai karena berulang kali kabur dari rumah dan mengamuk di jalanan. Beberapa kali, adiknya itu juga melempari pengendara motor yang melintas dengan batu.

"Jika sedang marah dia nekat membuka baju hingga telanjang bulat. Gedek di kamar juga dijebolnya, dia hanya manut atau menurut sama saya termasuk saat disuruh mandi, jika dengan orang lain pasti Sartini mengamuk," katanya.

Kusiman mengatakan, adiknya sempat bersekolah di SMP Negeri 5 Cilacap namun hanya sampai kelas satu. Setelah berhenti sekolah, Sartini lantas bekerja di Jakarta namun hanya sebentar dan lantas kembali ke  Cilacap.

Adik tercintanya itu bahkan sempat dilamar dua pemuda. Namun usai lamaran, justru menjadi depresi, ia memerkirakan itu disebabkan apa yang ada di pikiran tidak sama dengan kenyataan.

"Setelah berobat ke sejumlah kyai dan dukun, pada awal 2012 sartini sempat sembuh dan oleh dikirim ke tempat saudara di Lombok. Ternyata depresinya kambuh lagi, ditandai dengan minta disuapi setiap kali makan, adik saya juga jadi lebih banyak diam," ujarnya.

Ibu Sartini, Sarinem Rubes mengatakan, meski mengalami depresi, putrinya itu masih hafal dengan rekan-rekan semasa di SD Negeri Kutawaru 04. Sesekali Sartini juga masih mengaji Al Quran dengan lancar.

Warga RT 2 RW 13, Pekuyan Kutawaru itu menjelaskan, Sartini juga masih rajin menjalankan salat lima waktu. Ia menjelaskan, tidak ada tanda-tanda jika anak tercintanya itu akan mengalami depresi seperti sekarang.

"Saya sudah bercerai, sejak itu mantan suami, Sumarjo sama sekali tidak pernah menengok Sartini. Untuk pengobatan, kami pasrahkan kyai dan orang pintar, Alhamdulillah sekarang sudah ada yang sanggup mengobati putri saya lagi," katanya.

Anggota Divisi Perekonomian Wilayah Kota Majelis Rakyat Cilacap, Supiyan Subekti mengatakan akan mendampingi proses penyembuhan Sartini. Apabila upaya yang dilakukan kyai menemui jalan buntu, menurutnya MRC siap membawa gadis itu ke Rumah Sakit Jiwa Magelang.

"Kami sudah berkoordinasi dengan keluarga dan mereka telah memasrahkan pengobatan Sartini. MRC juga akan menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk mendampingi pengobatan gadis itu," ujarnya. (jojo paijo/agung lindu nagara)
Baca Selengkapnya...

PENDERITA CANCER


Ca. Gland. Mucosa pertumbuhan sangat cepat, RSUD tidak sanggup
Baca Selengkapnya...

Limfa Terbalik, Perut Yesika Membesar


Pasangan Sakimin Satriaji dan Rohmah tidak pernah menyangka jika putri ketiga mereka Yesika Latifathul Anggraeni akan mendapat cobaan berat di usianya yang masih belia.

Sakimin yang merupakan warga RT 1 RW 6, Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut mengatakan, Yesika mengalami pembesaran perut akibat limfanya  terbalik usai terjatuh dari kursi empat bulan yang lalu.

"Seminggu setelah jatuh, Yesika diurut, saat itu kondisinya masih normal barulah ketika dipijat untuk kedua kalinya perutnya mulai membesar. Tubuhnya pun mengecil," katanya, Rabu (10/10).

Akibat sakit, menurut Sakimin putrinya itu sempat tidak mau makan hingga dua bulan lamanya dan hanya meminum susu ibunya. Itu pun harus benar-benar kenyang, jika tidak Yesika akan menangis.

Ia mengungkapkan, saat di bawa ke RS Fatimah Kawunganten, dokter yang merawat Yesika menyarankan agar putri bungsunya itu segera dioperasi. Namun karena tidak memiliki biaya, sampai sekarang sebatas diobati tukang pijat dan paranormal di Panikel.

"Pekerjaan saya serabutan dan baru sebulan ini mencoba jadi tukang las perakitan jonder atau mobil sederhana. Pendapatan pun tidak pasti, ada persewaan tratag namun itu juga masih milik orang lain," katanya.

Yesika lahir 25 Desember 2011. Sakimin mengatakan sebelum sakit seperti sekarang, pada usia enam bulan bobotnya mencapai 10 kilogram bahkan saat lahir berat badan putrinya itu telah empat kilogram.

"Dulu dia sangat gemuk, saya bersyukur, sekarang Yesika mau makan nasi pakai sayur bening, mulai bisa belajar ngomong dan tertawa," ujarnya.

Sementara Bidan Hartini yang membantu proses kelahiran Yesika menjelaskan, akibat limfa terbalik, sistem pencernaan tidak baik sehingga asupan nutrisi kurang dan pertumbuhan Yesika juga menjadi kurang optimal

"Kesehatan Yesika dipantau terus, kami juga berusaha semaksimal mungkin agar dia tetap bertahan. Hanya gara-gara jatuh, pada usia sembilan bulan, beratnya hanya enam kilogram dengan panjang 70 sentimeter," ujarnya. (jojo paijo/agung lindu nagara)
Baca Selengkapnya...

ORANG TUA FAJAR BERKUNJUNG KE SEKRETARIAT MRC


Jumat, 12 Oktober 2012, sekitar pkl. 08.30 WIB, Kantor Sekretariat MRC kedatangan tamu dari Jakarta. Mereka adalah Lamin (20 thn) asal Penikel, Kampung Laut dan Rinawati (22 thn) asal Karangsembung, Kebumen.
Ya, mereka adalah orang tua dari Fajar Choiri Saiman (4 bln), bayi tanpa anus yang saat sekarang masih dirawat di RS. Margono Purwokerto pasca operasi pertamanya.

Kedatangan mereka memang atas undangan MRC untuk mengetahui kondisi Fajar pasca operasi dan langkah-langkah yang bisa diambil sebelum mereka menengok anak tercintanya di RS Margono.

Ditemui oleh Adi dari LPPSLH yang didampingi Bayu Nur Aji, Jojo Paijo, Iyan Bakul Saham, Tejo Sutrisno dari MRC dan Nawa Nugrasiwi dari LSM Teratai, suami istri tersebut menceritakan kronologis dan usaha mereka selama ini untuk mencari solusi dari masalah yang sedang menimpa anaknya terutama dari sisi biaya.

Kondisi ekonomi merekalah yang akhirnya memaksa suami istri ini harus meninggalkan Fajar bersama Kakek dan Neneknya di Penikel dan mereka berdua bekerja di Jakarta saat Fajar masih berusia 3 bln.
Selama di Jakarta, Lamin bekerja di Restorant sebagai pemotong sayur, sedangkan istrinya Rina bekerja ditempat bibinya yang memiliki usaha kost-kostan. Mereka menceritakan bahwa dari gaji mereka berdua hanya cukup untuk biaya hidup dan membeli susu Fajar. Sedangkan untuk biaya operasi Fajar sendiri mereka masih mengalami kesulitan.


Dari obrolan itulah akhirnya bisa diambil beberapa poin penting untuk penanganan Fajar kedepannya. Selain penanganan secara medis untuk Fajar yang masih membutuhkan setidaknya 2 kali operasi lagi, juga ada wacana untuk pemberdayaan orang tua Fajar yang hanya lulusan MI, untuk mengikuti kursus dan ujian persamaan agar memiliki skil dan kedepannya lebih mudah mendapatkan pekerjaan di Cilacap dan tidak perlu jauh-jauh meninggalkan Fajar yang memang masih sangat butuh perawatan.


Untuk itu MRC masih akan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait dan seluruh anggota MRC untuk terus memberi dukungan moral maupun material dari masalah yang menimpa Fajar Choiri Saiman ini. (jojo paijo)


Baca Selengkapnya...

Selayang Pandang Majelis Rakyat Cilacap


Ora Asal Muni Tapi ana Gerake

LEBIH dari satu bulan, warga Cilacap terutama mereka-mereka yang aktif di jejaring sosial Facebook dibuat bertanya-tanya dengan keberadaan Majelis Rakyat Cilacap (MRC).

Anggota organisasi itu, beberapa kali mengunggah persoalan-persoalan sosial yang ada di Cilacap seperti bayi tanpa anus asal Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Fajar Khoiri Saiman dan gadis depresi yang hidup dalam pasungan, Sartini.

Tidak hanya sebatas mengunggah, anggota MRC juga mencari solusi dari tiap persoalan yang mereka temukan termasuk menggalang dana. Fajar kini telah menjalani operasi pertamanya, mereka juga berencana membawa Sartini ke Rumah Sakit Jiwa Magelang untuk diobati.

Ketika ditemui di kediamannya, Bendahara Umum MRC, Saminah Wijaya SE mengatakan, orang-orang dalam organisasi itu juga merupakan anggota Forum Warga Cilacap untuk Peduli dan Berkarya di jejaring sosial Facebook.

"Agar tidak sebatas diskusi di forum dunia maya seperti itu. Sejumlah pegiat forum di dunia maya ibersepakat membentuk Majelis Rakyat Cilacap (MRC) pada Minggu 9 September 2012 atau bertepatan dengan Pemilu Bupati dan Wakil Bupati Cilacap," katanya.

Dia mengungkapkan peralihan dari dunia maya ke dunia nyata atau online ke offline bertujuan agar anggotanya ora asal muni tapi ana gerake atau bila diterjemahkan ke Bahasa Indonesia menjadi tidak asal bicara namun memiliki gerakan.

Ia menjelaskan, pada 3 November mendatang MRC mengendakan kegiatan pengobatan gratis di Desa Madusari, Kecamatan Wanareja. Perempuan yang akrab disapa admin ayu itu mengungkapkan, MRC masih memiliki mimpi untuk punya tanah dan gedung sendiri.

Terpisah, Ketua Wilayah Kota MRC, Sugeng Paijo menjelaskan, organisasi itu berbadan hukum dan bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat yang melingkupi ekonomi, sosial, budaya serta lingkungan hidup.

Menurutnya, saat ini MRC memiliki 1.250 anggota yang berdomisili di Cilacap maupun luar Cilacap. Ia menegaskan, ada dua jenis keanggotaan yakni kehormatan dan biasa.

"Bukan orang Cilacap pun tidak masalah, selama mereka memiliki kepedulian untuk memajukan Cilacap. Kami juga memiliki dewan kehormatan, mereka merupakan tokoh di Cilacap yang memiliki peran perintis dalam terbentuknya MRC serta tokoh lain yang berperan aktif dalam membangun Cilacap," ujarnya.

lelaki yang akrab disapa Jojo itu menjelaskan, organisasi itu juga memiliki pimpinan majelis yang terdiri dari pengurus harian dan divisi. Adapun program kerja atau misi yang mereka usung yakni menolong dan membantu sesama sesuai kapasitas MRC.

Pemberdayaan ekonomi kerakyatan dengan melakukan usaha baik berbentuk konsep maupun riil. Sementara, untuk anggaran organisasi didapat dari iuran anggota dan dari pihak ketiga. (jojo/agung lindu nagara)
Baca Selengkapnya...

Kerusakan Habitat Mangrove Ancaman Kehidupan Nelayan


Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) Kantor Wilayah Cilacap bekerjasama dengan Karang Taruna dan Kelompok Pemuda Peduli Mangrove (KPPM) Kecamatan Kampung Laut mengadakan kegiatan pembibitan bakau.

Koordinator LPPSLH Kanwil Cilacap, Nawa Nugrahasiwi Bratawan menjelaskan kegiatan difokuskan di dua desa yakni Ujunggagak dan Panikel. Menurutnya, bibit bakau yang tumbuh baik nantinya akan digunakan untuk keperluan konservasi lahan.

"Habitat bakau di wilayah Segara Anakan terutama kawasan hutan lindung sudah hilang. Dari tepi memang terlihat masih rimbun namun dibaliknya atau di bagian tengah sudah sangat gundul, " katanya.

Ia menambahkan, berdasar data habitat bakau yang rusak mencapai tiga ribu hektare dan membutuhkan waktu paling cepat 10 tahun untuk memulihkan kawasan itu seperti sedia kala, itu pun dengan syarat, bakau yang ditanam pemuda tidak dijarah.

Nawa mengungkapkan, kawasan bakau digunakan ikan, udang maupun biota lain untuk memijah atau bertelur. Jika upaya konservasi yang dilakukan bersama rekan-rekannya gagal maka 33 ribu nelayan di Cilacap terancam kehilangan mata pencaharian.

"Apa yang akan dipanen nelayan jika ikan dan biota lain sudah tidak lagi beranak pinak di perairan Cilacap. Kondisi itu sangat mungkin terjadi jika bakau terus dijarah hingga punah oleh warga di luar Kampung Laut," katanya.

Ia menegaskan, kepunahan bakau sama dengan kepunahan kawasan segara anakan. Nawa berharap semua pihak melindungi wilayah itu sekuat tenaga termasuk menangani persoalan sedimentasi.

Sementara, koordinator pemuda Desa Panikel, Sutejo menjelaskan, bibit bakau diambi langsung dari hutan. Selanjutnya, bibit itu akan disemai dekat gubuk di tepi sungai hingga siap digunakan untuk kegiatan konservasi.

"Bibit yang digunakan harus belum berakar atau masih berupa biji, jika telah keluar akarnya dan dicabut besar kemungkinan tidak jadi. Sebelum disemai, sementara waktu disimpan di karung, namun hanya dua hari sebab apabila terlalu lama akan busuk," ujarnya menjelaskan. (jojo/lindu)
Baca Selengkapnya...

Tipsdan Trik Pertanian


Cara sederhana membuat Fungisida Alami

Fungisida merupakan obat pembasmi fungi/jamur yang menyerang tanaman, sayangnya, harga fungisida yang melambung membuat sebagian besar petani
merasa keberatan dan akhirnya mengurangi pemakaian obat tersebut untuk tanaman.
Akibatnya…bisa ditebak !!!. Tanaman semakin nelangsa dan yang parah dan
produktivitas tanaman akan semakin menurun, oleh karena itu, mari kita membuat fungisida organik sendiri.

Bahan-bahan untuk pembuatan fungisida organik ini, kita ambil dari bahan-
bahan yang murah, meriah dan mudah ditemui di lingkungan kita, tentu juga mempertimbangkan aspek ke efisienan dan ke efektifan nya dalam membasmi jamur.

Bahan-bahan yang diperlukan :

1. Bawang putih.............. 2 kg
2. Temu ireng ................ 2 kg
3. Temu lawak ............... 2 kg
4. Umbi gadung.............. 2 kg
5. Kencur ...................... 2 kg
6. Kunir putih ................ 2 kg
7. Lengkoas .................. 2 kg

Langkah pembuatan fungisida organik sebagai berikut 


1. Bahan-bahan diatas dicuci hingga bersih
2. Semua bahan ditumbuk hingga halus satu persatu dan dicampur
3. Campuran tersebut kemudian direndam dalam air bersih kira-kira 5 liter.
4. Larutan tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari untuk memberi kesempatan proses fermentasi berlangsung
5. setelah 3-4 hari, kemudian peras dan saring, setelah hari ke 4 larutan biang fungisida sudah jadi, silakan dimanfaatkan.

Cara Pembuatan

Larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1.000 ml : 750 ml

Cara Penggunaan

Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman.
Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Untuk menanggulangi Jamur, komposisi bawang putih dan kencur, masing2 ditambah 1 kg, untuk menambah efektivitasnya.

Untuk menanggulangi Bakteri, komposisi ireng/temu lawak,kunir, maing-masing ditambah 1 kg, untuk menambah efektivitasnya.

Untuk penyakit bercak putih pada daun cabe, jamur jelaga hitam pada cabe/kacang panjang, antraknose ringan pada cabe atau bahkan layu, bisa menggunakan bakteri Pseudomonas sp.

Obat penangguangan hama organik, sifatnya lebih ke pencegahan sehingga aplikasi sebaiknya rutin, seminggu sekali.

Proses Pembuatan Pupuk Organik Teknologi Effective Microoorganisms (TEM)

Proses Pembuatan:

Proses (langkah-langkah) pembuatan pupuk bokashi adalah sebagai berikut:
1. Larutan EM + molase + air dicampur merata
2. Bokashi jerami/rumput-rumput hijau = Jerami yang telah dipotong-potong + dedak + sekam dicampur merata

Bokashi pupuk kandang= pupuk kandang + sekam + dedak dicampur merata
Bokashi pupuk kandang-arang = pupuk kandang + dedak + arang sekam/ arang serbuk gergaji dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-tanah = tanah + pupuk kandang + arang sekam/ arang serbuk gergaji + dedak dicampur merata

Bokashi ekspres = jerami kering (bahan yang lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.

3. Bahan nomor 2 disiram bahan nomor satu. Pencampuran dilakukan perlahan-
lahan dan merata hingga kandungan air ± 30 – 40%.
Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30 - 40% ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan megar bila genggaman dilepaskan.
4. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat dimasukkan ke dalam karung atau ditumpuk di atas lantai secara teratur. Tinggi tumpukan bahan umumnya setinggi 15 s/d 20 cm. Setelah itu, tumpukan ditutup dengan karung goni atau terpal.
5. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 500 Celcius, untuk itu, dilakukan pengontrolan setiap 5 jam sekali (minimal 1 kali sehari) suhunya diukur. Apabila suhu tumpukan lebih dari 500C, maka karung/terpal penutup dibuka dan gundukan bahan dibalik-balik, didiamkan sebentar hingga suhu normal lalu ditutup kembali, demikian seterusnya.
Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan.
6. Proses fermentasi berlangsung sekitar 4 – 7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari).
7. Setelah 4 hari bahan telah menjadi bokashi yang ditandai dengan ciri warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau, maka karung/terpal penutup dapat dibuka. Dalam kondisi seperti itu, bokashi telah selesai fermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.


Budidaya dan Tata Niaga Kacang Koro pedang Nasional

Dengan nilai kemanfa'atan yang begitu luas, seyogyanya kita dapat membuka wawasan yang lebih luas dan positif terhadap pengembangan program Budidaya dan Tata Niaga Kacang Koro pedang Nasional.

Karena program ini merupakan kegiatan yang dapat menyentuh langsung kehidupan para sahabat Tani, sebagai bagian dari upaya meningkatkan penghasilan merek
a, sekaligus menjadi salah satu pilar penyangga utama Ketahanan Pangan guna mendukung Kedaulatan Pangan Nasional dengan pencapaian Swasembada Pangan dan Protein.

Perbedaan pandangan dan kecurigaan pada kegiatan Budidaya Koro pedang Nasional, yang selalu di identifikasikan dengan kegagalan program lain, kiranya sangat tidak beralasan karena spektrum kemanfaatannya memang sudah terlihat dengan jelas.

Dalam hal ini, yang sangat dibutuhkan adalah dukungan dan pelaksanaan kegiatan dilapangan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, agar secara nyata dapat memberi dampak positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Hal seperti inilah yang didambakan oleh para sahabat tani kita diseluruh Indonesia, yang sudah sangat antusias menjalankan program tanamnya, dimana saat ini mereka sangat membutuhkan para pakar pertanian, untuk dapat membantu mereka secara nyata, bukan hanya sekedar ulasan dan ke khawatiran akan kegagalan program dengan setumpuk alasan.


Cara membuat pupuk cair dari sabut kelapa


Berikut ini cara membuat pupuk cair sabut kelapa :

Bahan dan alat

-Sabut kelapa sebanyak 25 kg
-Satu drum bekas atau bisa juga wadah serupa lainnya
-Air sebanyak 40 liter

Cara pembuatan

1. Sabut kelapa yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam drum bekas
2. Tuangkan air ke dalam drum hingga separuh terisi
3. Drum rendaman sabut kalapa harus ditutup rapat, agar tidak kemasukan air hujan atau sinar matahari langsung
4. Diamkan rendaman itu kurang lebih 15 hari
5. Jika air rendaman sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman, berarti pupuk cair dari sabut kelapa sudah jadi dan siap digunakan

Aplikasi

1. Pupuk cair diberikan dua kali dalam satu musim tanam
2. Pertama sebagai pupuk dasar sebelum lahan ditanami atau pada fase pengolahan tanah
3. Kedua pupuk diberikan setelah padi memasuki masa primordia (awal tumbuh), dengan cara pupuk tanpa tambahan air disemprotkan pada batang padi.

Pupuk cair sabut kelapa sama dengan pupuk kimia KCl buatan pabrik. Keuntungan lahan menggunakan pupuk cair sabut kelapa, biaya produksi lebih sedikit karena tidak perlu keluar uang membeli pupuk KCl.

Proses Pembuatan Pupuk Organik Teknologi Effective Microoorganisms (TEM)

Proses Pembuatan:

Proses (langkah-langkah) pembuatan pupuk bokashi adalah sebagai berikut:
1. Larutan EM + molase + air dicampur merata
2. Bokashi jerami/rumput-rumput hijau = Jerami yang telah dipotong-potong + dedak + sekam dicampur merata

Bokashi pupuk kandang= pupuk kandang + sekam + dedak dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-arang = pupuk kandang + dedak + arang sekam/ arang serbuk gergaji dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-tanah = tanah + pupuk kandang + arang sekam/ arang serbuk gergaji + dedak dicampur merata

Bokashi ekspres = jerami kering (bahan yang lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.

3. Bahan nomor 2 disiram bahan nomor satu. Pencampuran dilakukan perlahan-
lahan dan merata hingga kandungan air ± 30 – 40%.
Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30 - 40% ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan megar bila genggaman dilepaskan.
4. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat dimasukkan ke dalam karung atau ditumpuk di atas lantai secara teratur. Tinggi tumpukan bahan umumnya setinggi 15 s/d 20 cm. Setelah itu, tumpukan ditutup dengan karung goni atau terpal.
5. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 500 Celcius, untuk itu, dilakukan pengontrolan setiap 5 jam sekali (minimal 1 kali sehari) suhunya diukur. Apabila suhu tumpukan lebih dari 500C, maka karung/terpal penutup dibuka dan gundukan bahan dibalik-balik, didiamkan sebentar hingga suhu normal lalu ditutup kembali, demikian seterusnya.
Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan.
6. Proses fermentasi berlangsung sekitar 4 – 7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari).
7. Setelah 4 hari bahan telah menjadi bokashi yang ditandai dengan ciri warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau, maka karung/terpal penutup dapat dibuka. Dalam kondisi seperti itu, bokashi telah selesai fermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Baca Selengkapnya...

FAJAR Bayi Tak Beranus


Darsih, Warga RT 4 RW 3, Dusun Mara Dua, Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut menggendong cucunya, Fajar Khoiri Saiman (tiga bulan) yang terlahir tanpa anus. Sudah tiga bulan menanti pertolongan belum juga kunjung tiba, kami akan mengusahak
an untuk bisa membawa anak ini ke rumah sakit "Margono" purwokerto besok pada hari senin, menunggu kelengkapan dokumen.
Baca Selengkapnya...

LOGO BARU MRC






- Lis lingkaran, tulisan MAJELIS RAKYAT CILACAP dan : MRC  WARNA HITAM, melambangkan persatuan dan kesatuan serta kebulatan tekad untuk ikut serta menjadi bagian perubahan Cilacap kerah yang lebih baik.

- Background Lingkaran : WARNA BIRU LAUT, melambangkan Cilacap Kabupaten Bahari.

- Padi Dan Kapas : Melambangkan kemakmuran.

- Ikatan Pita berjumlah 5 (lima) : WARNA KUNING, melambangkan organisasi MRC tetap berdasarka pada Pancasila.

Ini adalah logo resmi MRC

Terima kasih untuk Agung Dwi Purnomo yang sudah mendesain logo ini.

(jojo)
Baca Selengkapnya...