Tipsdan Trik Pertanian


Cara sederhana membuat Fungisida Alami

Fungisida merupakan obat pembasmi fungi/jamur yang menyerang tanaman, sayangnya, harga fungisida yang melambung membuat sebagian besar petani
merasa keberatan dan akhirnya mengurangi pemakaian obat tersebut untuk tanaman.
Akibatnya…bisa ditebak !!!. Tanaman semakin nelangsa dan yang parah dan
produktivitas tanaman akan semakin menurun, oleh karena itu, mari kita membuat fungisida organik sendiri.

Bahan-bahan untuk pembuatan fungisida organik ini, kita ambil dari bahan-
bahan yang murah, meriah dan mudah ditemui di lingkungan kita, tentu juga mempertimbangkan aspek ke efisienan dan ke efektifan nya dalam membasmi jamur.

Bahan-bahan yang diperlukan :

1. Bawang putih.............. 2 kg
2. Temu ireng ................ 2 kg
3. Temu lawak ............... 2 kg
4. Umbi gadung.............. 2 kg
5. Kencur ...................... 2 kg
6. Kunir putih ................ 2 kg
7. Lengkoas .................. 2 kg

Langkah pembuatan fungisida organik sebagai berikut 


1. Bahan-bahan diatas dicuci hingga bersih
2. Semua bahan ditumbuk hingga halus satu persatu dan dicampur
3. Campuran tersebut kemudian direndam dalam air bersih kira-kira 5 liter.
4. Larutan tersebut kemudian ditempatkan dalam wadah tertutup dan biarkan 3-4 hari untuk memberi kesempatan proses fermentasi berlangsung
5. setelah 3-4 hari, kemudian peras dan saring, setelah hari ke 4 larutan biang fungisida sudah jadi, silakan dimanfaatkan.

Cara Pembuatan

Larutkan biang fungisida ini dalam air bersih dengan perbandingan 1.000 ml : 750 ml

Cara Penggunaan

Cara aplikasi bisa dengan disemprotkan ke tanaman yang terserang penyakit/belum (untuk pencegahan) dan atau dikocorkan langsung ke pangkal tanaman.
Fungisida organik ini sekaligus juga bisa berfungsi sebagai pupuk organik cair (POC). Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Untuk menanggulangi Jamur, komposisi bawang putih dan kencur, masing2 ditambah 1 kg, untuk menambah efektivitasnya.

Untuk menanggulangi Bakteri, komposisi ireng/temu lawak,kunir, maing-masing ditambah 1 kg, untuk menambah efektivitasnya.

Untuk penyakit bercak putih pada daun cabe, jamur jelaga hitam pada cabe/kacang panjang, antraknose ringan pada cabe atau bahkan layu, bisa menggunakan bakteri Pseudomonas sp.

Obat penangguangan hama organik, sifatnya lebih ke pencegahan sehingga aplikasi sebaiknya rutin, seminggu sekali.

Proses Pembuatan Pupuk Organik Teknologi Effective Microoorganisms (TEM)

Proses Pembuatan:

Proses (langkah-langkah) pembuatan pupuk bokashi adalah sebagai berikut:
1. Larutan EM + molase + air dicampur merata
2. Bokashi jerami/rumput-rumput hijau = Jerami yang telah dipotong-potong + dedak + sekam dicampur merata

Bokashi pupuk kandang= pupuk kandang + sekam + dedak dicampur merata
Bokashi pupuk kandang-arang = pupuk kandang + dedak + arang sekam/ arang serbuk gergaji dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-tanah = tanah + pupuk kandang + arang sekam/ arang serbuk gergaji + dedak dicampur merata

Bokashi ekspres = jerami kering (bahan yang lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.

3. Bahan nomor 2 disiram bahan nomor satu. Pencampuran dilakukan perlahan-
lahan dan merata hingga kandungan air ± 30 – 40%.
Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30 - 40% ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan megar bila genggaman dilepaskan.
4. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat dimasukkan ke dalam karung atau ditumpuk di atas lantai secara teratur. Tinggi tumpukan bahan umumnya setinggi 15 s/d 20 cm. Setelah itu, tumpukan ditutup dengan karung goni atau terpal.
5. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 500 Celcius, untuk itu, dilakukan pengontrolan setiap 5 jam sekali (minimal 1 kali sehari) suhunya diukur. Apabila suhu tumpukan lebih dari 500C, maka karung/terpal penutup dibuka dan gundukan bahan dibalik-balik, didiamkan sebentar hingga suhu normal lalu ditutup kembali, demikian seterusnya.
Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan.
6. Proses fermentasi berlangsung sekitar 4 – 7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari).
7. Setelah 4 hari bahan telah menjadi bokashi yang ditandai dengan ciri warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau, maka karung/terpal penutup dapat dibuka. Dalam kondisi seperti itu, bokashi telah selesai fermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.


Budidaya dan Tata Niaga Kacang Koro pedang Nasional

Dengan nilai kemanfa'atan yang begitu luas, seyogyanya kita dapat membuka wawasan yang lebih luas dan positif terhadap pengembangan program Budidaya dan Tata Niaga Kacang Koro pedang Nasional.

Karena program ini merupakan kegiatan yang dapat menyentuh langsung kehidupan para sahabat Tani, sebagai bagian dari upaya meningkatkan penghasilan merek
a, sekaligus menjadi salah satu pilar penyangga utama Ketahanan Pangan guna mendukung Kedaulatan Pangan Nasional dengan pencapaian Swasembada Pangan dan Protein.

Perbedaan pandangan dan kecurigaan pada kegiatan Budidaya Koro pedang Nasional, yang selalu di identifikasikan dengan kegagalan program lain, kiranya sangat tidak beralasan karena spektrum kemanfaatannya memang sudah terlihat dengan jelas.

Dalam hal ini, yang sangat dibutuhkan adalah dukungan dan pelaksanaan kegiatan dilapangan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna, agar secara nyata dapat memberi dampak positif bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

Hal seperti inilah yang didambakan oleh para sahabat tani kita diseluruh Indonesia, yang sudah sangat antusias menjalankan program tanamnya, dimana saat ini mereka sangat membutuhkan para pakar pertanian, untuk dapat membantu mereka secara nyata, bukan hanya sekedar ulasan dan ke khawatiran akan kegagalan program dengan setumpuk alasan.


Cara membuat pupuk cair dari sabut kelapa


Berikut ini cara membuat pupuk cair sabut kelapa :

Bahan dan alat

-Sabut kelapa sebanyak 25 kg
-Satu drum bekas atau bisa juga wadah serupa lainnya
-Air sebanyak 40 liter

Cara pembuatan

1. Sabut kelapa yang telah dibersihkan dimasukkan ke dalam drum bekas
2. Tuangkan air ke dalam drum hingga separuh terisi
3. Drum rendaman sabut kalapa harus ditutup rapat, agar tidak kemasukan air hujan atau sinar matahari langsung
4. Diamkan rendaman itu kurang lebih 15 hari
5. Jika air rendaman sudah berubah warna menjadi kuning kehitaman, berarti pupuk cair dari sabut kelapa sudah jadi dan siap digunakan

Aplikasi

1. Pupuk cair diberikan dua kali dalam satu musim tanam
2. Pertama sebagai pupuk dasar sebelum lahan ditanami atau pada fase pengolahan tanah
3. Kedua pupuk diberikan setelah padi memasuki masa primordia (awal tumbuh), dengan cara pupuk tanpa tambahan air disemprotkan pada batang padi.

Pupuk cair sabut kelapa sama dengan pupuk kimia KCl buatan pabrik. Keuntungan lahan menggunakan pupuk cair sabut kelapa, biaya produksi lebih sedikit karena tidak perlu keluar uang membeli pupuk KCl.

Proses Pembuatan Pupuk Organik Teknologi Effective Microoorganisms (TEM)

Proses Pembuatan:

Proses (langkah-langkah) pembuatan pupuk bokashi adalah sebagai berikut:
1. Larutan EM + molase + air dicampur merata
2. Bokashi jerami/rumput-rumput hijau = Jerami yang telah dipotong-potong + dedak + sekam dicampur merata

Bokashi pupuk kandang= pupuk kandang + sekam + dedak dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-arang = pupuk kandang + dedak + arang sekam/ arang serbuk gergaji dicampur merata

Bokashi pupuk kandang-tanah = tanah + pupuk kandang + arang sekam/ arang serbuk gergaji + dedak dicampur merata

Bokashi ekspres = jerami kering (bahan yang lain) + bokashi yang sudah jadi + dedak dicampur merata.

3. Bahan nomor 2 disiram bahan nomor satu. Pencampuran dilakukan perlahan-
lahan dan merata hingga kandungan air ± 30 – 40%.
Kandungan air yang diinginkan diuji dengan menggenggam bahan. Kandungan air 30 - 40% ditandai dengan tidak menetesnya air bila bahan digenggam dan akan megar bila genggaman dilepaskan.
4. Bahan yang telah dicampur tersebut diletakkan di atas tempat yang kering atau dapat dimasukkan ke dalam karung atau ditumpuk di atas lantai secara teratur. Tinggi tumpukan bahan umumnya setinggi 15 s/d 20 cm. Setelah itu, tumpukan ditutup dengan karung goni atau terpal.
5. Suhu tumpukan dipertahankan antara 40 – 500 Celcius, untuk itu, dilakukan pengontrolan setiap 5 jam sekali (minimal 1 kali sehari) suhunya diukur. Apabila suhu tumpukan lebih dari 500C, maka karung/terpal penutup dibuka dan gundukan bahan dibalik-balik, didiamkan sebentar hingga suhu normal lalu ditutup kembali, demikian seterusnya.
Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukan.
6. Proses fermentasi berlangsung sekitar 4 – 7 hari, kecuali untuk bokashi ekspres, fermentasi berlangsung 24 jam (1 hari).
7. Setelah 4 hari bahan telah menjadi bokashi yang ditandai dengan ciri warna hitam, gembur, tidak panas dan tidak berbau, maka karung/terpal penutup dapat dibuka. Dalam kondisi seperti itu, bokashi telah selesai fermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

Comments

Popular posts from this blog

FAJAR Bayi Tak Beranus

DEPRESI, SARTINI HIDUP DALAM PASUNGAN

BANYAK LANSIA TERKENA KATARAK (catatan Baksos di Desa Wanareja)